Jangan Terbiasa Dengan Kekalahan

Kamis, 17-02-2011 03:00
Oleh: Kiki Esa Perdana

Persib Bandung © persib.co.id

Ucapan jangan sampai bobotoh terbiasa dengan hasil kekalahan, adalah kalimat yang saya baca pada suatu pagi hari di salah satu akun jejaring sosial milik kawan. Dalam ilmu psikologi, kebiasaan itu terjadi melalui pengulangan atau lengkapnya, merupakan tingkah laku yang dilakukan seseorang secara berulang-ulang dalam hal yang sama, yang kemudian menjadi suatu kebiasaan. Saya mencoba masuk dalam pemikiran ini di sepakbola. Secara statistik, saat saya menulis ini, PERSIB menghuni papan bawah, posisi klasmen dengan nilai yang kurang memuaskan dari beberapa laga. Memang pertandingan masih banyak yang tersisa, banyak poin akan dihasilkan dan dinilai terlalu dini untuk mengatakan bahwa PERSIB gagal di liga ini.

Namun, hasil seperti ini janganlah dijadikan suatu landasan berpikir, jangan pula dijadikan pengaruh yang dapat menggerakkan hati atau memotivasi terhadap suatu keyakinan, atau mensugesti kita ke depannya untuk terbiasa berpikiran bahwa kekalahan adalah hal yang biasa. Jargon “bae lah ngke oge meunang” atau  “dalam pertandingan ada menang atau kalah, jadi wajar lah kalau kalah”, adalah musuh untuk suporter jika diucapkan dalam beberapa kali kesempatan. Semakin lama, ini seakan kita mensugesti diri bahwa kekalahan adalah hal yang wajar. Manusia dalam berpikir dan bertindak harus mempunyai stimulus, harus ada alasan mengapa kita melakukan A atau berpikir B.

Dalam hal ini, stimulus bisa merupakan suatu sugesti buruk jika berpikiran bahwa kekalahan adalah hal yang wajar dalam suatu pertandingan. Ini adalah stimulus yang mensugesti negatif. Ucapan itu biarkan terucap secara lisan dan pikiran hanya satu kali. Jika lebih dari satu kali, berarti kita menstimulus otak kita untuk terbiasa dengan kekalahan, bukan suatu pembelajaran yang baik dalam hidup. Stimuluslah otak dengan sikap dan energi positif, latihan baik dan introspeksi, jauhkan ucapan seperti itu dengan bermain baik, disiplin atau bahkan memberikan kemenangan dalam pertandingan.

Saya mengerti untuk menang dalam pertandingan tidak sesederhana itu. Untuk bertarung di lapangan hijau tidak semudah itu, banyak faktor menentukan. Namun, manusia ditakdirkan untuk percaya akan proses dan belajar dari setiap kesalahan, jadi dengan mengerti hal tersebut, dalam setiap jalan ke depan setidaknya sudah bisa belajar dari kesalahan dan tak akan mengulang kesalahan yang sama. Bobotoh yang membaca tulisan saya ini pasti mengerti betapa besar arti PERSIB bagi kita semua.

Saya ingat seorang kawan jurnalis pernah bergurau, jika hari pertandingan atau saat kompetisi liga berjalan, kata yang paling sering diucapkan bobotoh adalah PERSIB dibandingkan kata yang lain. Saya sempat berpikir apakah iya seperti itu, ternyata ditilik lebih dalam memang terbukti, mungkin terbukti bukan secara ilmiah atau dengan alat ukur, tetapi terbukti diucapkan dalam hati dan batin. Dari berbagai cara pikir itulah, mengapa buat saya ucapan “jangan sampai bobotoh terbiasa dengan hasil kekalahan” ini sangat penting. Jangan biarkan kita semua terbiasa dengan kekalahan walaupun "meunang eleh aing PERSIB". ***

Penulis adalah bobotoh, seorang dosen, dan fotografer

Bergabunglah Bersama PERSIB :

Komentar








2014

14

Pertandingan dimainkan

  • 8

    Menang

  • 28

    Gol

  • 75

    Shot
    On Target

  • 24

    Kartu
    Kuning

  • 4

    Imbang

  • 14

    Kemasukan

  • 67

    Shot Off Target

  • 1

    Kartu Merah

  • 2

    Kalah

  • 3

    Clean Sheet

  • 139140

    Penonton di Kandang

  • 1

    Ferdinand

    8 Gol

  • 2

    Konate

    6 Gol

  • 3

    Djibril

    6 Gol